Sebagai upaya untuk memenuhi, melaksanakan, dan mewujudkan hak penyandang disabilitas, Dinas Kebudayaan DIY akan menggelar Pekan Budaya Difabel. Acara ini akan berlangsung pada tanggal 16 – 20 November 2019 di Lobby Societet Taman Budaya Yogyakarta.

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat dan Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni, Dinas Kebudayaan DIY Dra Yuliana Eni Lestari Rahayu menjelaskan tujuan diadakannya kegiatan ini adalah tidak merubah dari isi jamboree sebelumnya, meskipun sekarang berganti nama menjadi Pekan Budaya Difabel. “Pekan Budaya Difabel menjadikan titik poin bagi semua pihak untuk membangun potensi diri, support system untuk mendukung lingkungan inklusi,” ujar Eni.

Serangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan antara lain pembuatan buku, seminar, pameran, workshop, operet inklusi dan lainnya. Dan setiap harinya bakal ada pementasan di societet.

Hal yang paling menarik dalam Pekan Budaya Difabel kali ini adalah pertunjukan operet inklusi yang akan menampilkan sekitar 100 pemain dari berbagai komunitas, baik dari masyarakat umum maupun komunitas difabel.

Broto selaku sutradara operet inklusi menuturkan, “operet dengan judul Jalan Menuju Cahaya melibatkan teman-teman ISI, dan menghadirkan Putri Raharjo penyandang autis down sindrom. Dan ternyata mereka mampu melakukan sesuatu untuk penetrasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Pekan Budaya Difabel tahun ini mengusung tema Turning point/ Titik balik yaitu sebuah momen penting dalam kehidupan seseorang di mana mereka menemukan sebuah pencerahan melalui peristiwa-peristiwa dalam hidupnya dan membuat mereka bangkit dan berubah menjadi orang yang lebih baik serta menginspirasi orang lain.

Dengan adanya kegiatan ini diharapakan kesadaran tentang disabilitas dan inklusi sosial dapat mempengaruhi kebijakan dalam segala lini kehidupan sehingga terwujud Kemuliaan Martabat Manusia Jogja tanpa batas, tanpa diskriminasi, untuk semua dalam lingkungan inklusif.