Yogyakarta,berasa.id – Virus Corona telah mewabah di seluruh dunia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghambat peredarannya, salah satu diantaranya adalah dengan menjaga kebersihan. Hal paling mudah adalah dengan cara mencuci tangan selepas bepergian maupun beraktivitas untuk meminimalisir bakteri yang ada.

Kesadaran masyarakat yang tinggi akan kesehatan membuat mereka berlomba-lomba untuk membeli produk kesehatan yang ada. Hal tersebut justru menimbulkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab menimbun sabun pencuci tangan maupun hand sanitizer, yang mengakhibatkan langkanya produk tersebut di pasaran.

Produk sabun pencuci tangan yang beredar di masyarakat yang mengandung antibakteri berupa senyawa-senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri, terutama bakteri yang memberikan efek negatif bagi kesehatan manusia. Senyawa yang dapat membunuh bakteri diistilahkan dengan germisida, antiseptik, bakteriostatik, bakterisida, dan desinfektan.

Sekelompok mahasiswa FMIPA UNY yang terdiri dari Laatifah prodi Fisika, Dian Saputra prodi Pendidikan Biologi dan Ulfa Fitri Rohmatin prodi Kimia meneliti daun jambu air dengan nanopartikel perak untuk dibuat sabun pencuci tangan.

Ekstrak daun jambu air mengandung beberapa senyawa aktif berupa flavonoid, saponin, alkaloid dan triterpenoid. Salah satu dari senyawa tersebut yakni senyawa saponin memiliki manfaat sebagai pembersih atau antiseptik.

Begini proses pembuatan sabun cuci tangan dari daun jambu air :

  1. Membuat ekstrak daun jambu air (Syzygium aqueum) yang dilakukan dengan metode maserasi, yaitu dengan menimbang 100 gram serbuk daun jambu air dan merendamnya menggunakan 500 ml methanol selama 5 hari.
  2. Langkah kedua menyaring larutan sehingga diperoleh maserat dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 79oC sehingga diperoleh ekstrak kental.
  3. Pembuatan sintesis nanopartikel perak :  0,5 gram bubuk AgNO3 dilarutkan dalam 500 ml aquades. 10 ml larutan AgNO3 diambil dan dipanaskan selama 10  menit, kemudian diangkat kemudian ditambahkan 3 tetes natrium sitrat 1% ke dalam larutan AgNO3. Larutan dipanaskan kembali hingga sampel berwarna kekuningan.
  4. Pembuatan sabunnya sendiri dimulai dari penimbangan padatan KOH (Kalium Hidroksida) sebanyak 50 ram, kemudian diencerkan sampai 100 ml. 33 ml larutan KOH diambil dan dipanaskan pada suhu 75oC selama 10 menit. 15 ml minyak VCO (Virgin Coconut Oil) dipanaskan pada suhu  75oC selama 5 menit dan didinginkan. Larutan KOH dan minyak VCO dicampur dan dipanaskan sambal diaduk pada suhu  75oC sampai berbentuk padatan. 5 ml gliserin, 0,1 ml nanopartikel perak, dan 10 ml ekstrak ditambahkan. Campuran diaduk dan dipanaskan lalu ditambahkan aquades hingga volume akhir 100 ml.

Pembuatan hand wash daun Syzigium aqueum mengunakan basa KOH, Gliserin dan minyak VCO. Pemilihan KOH sebagai bahan pembuatan sabun adalah karena jika digunakan untuk hand wash atau sabun pencuci tangan maka KOH lebih mudah larut dibanding dengan NaOH.

Alasan penggunaan VCO sebagai bahan dasar pembuatan sabun karena VCO merupakan minyak yang paling kaya dengan kandungan asam lemak yang menguntungkan kulit dibandingkan dengan minyak lainnya dan warna VCO yang bening, jernih serta mudah larut dalam air. Penambahan gliserin pada sabun berfungsi sebagai pelembut.

Penggunaan gliserin pada pembuatan hand wash dikarenakan gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air untuk menghasilkan asam lemak. Gliserin merupakan humektan sehinga dapat berfungsi sebagai pelembap pada kulit. Pada kondisi atmosfer sedang ataupun pada kondisi kelembaban tinggi, gliserin dapat melembabkan kulit dan mudah dibilas. (nik)

Source: FPMIPA UNY