Berasa.id – Kasus penolakan jenazah korban Virus Covid – 19 di Semarang Jawa Tengah menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah maupun masyarakat. Gubernur Jawa Tengan Ganjar Pranowo ikut angkat bicara mengenai kasus tersebut, Ganjar menghimbau agar masyarakat tidak menghakimi dengan menolak kepulangan jenazah tersebut dan pemerintah wajib memberi edukasi mengenai cara penyebaran virus tersebut. Seperti diketahui virus yang menempel pada jenazah korban terinfeksi akan ikut mati, dan tidak akan menular ke yang lainnya.

Semakin hari kewaspadaan dan kesadaran masyarakat akan virus Corona mulai naik signifikan dibanding masa sebelum 2 Maret 2020 awal merebaknya virus Covid – 19. Namun sayangnya kewaspadaan tersebut justru menimbulkan keresahan dan ketakutan baru di kalangan masyarakat, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan yang tepat sehingga timbul stigma baru yang mengaibatkan kesalahpahaman terkait pemulasaraan jenazah Covid – 19. Seperti contoh kasus penolakan pemakaman jenazah yang terjadi di Semarang tersebut.

Fenomena ini harus segera dihentikan sebelum menjadi kegaduhan yang lebih luas dan semakin sulit diberantas. Melalui dr. Agus Widiyatmoko, Sp.PD., M.Sc, dokter ahli spesialis penyakit dalam yang juga dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY menyampaikan bahwa untuk menyikapi terkait penolakan jenazah di berbagai daerah yang ada di Indonesia, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa jenazah yang memiliki status ODP, PDP, maupun positif COVID-19 diperlakukan serupa halnya dengan korban meninggal positif COVID-19.

Hal ini dikarenakan hasil tes pasien ODP dan PDP yang sudah meninggal dunia kemungkinan belum keluar sehingga belum bisa ditetapkan negatif COVID-19. Namun, pasien PDP memiki risiko yang lebih besar untuk mendapatkan hasil positif COVID-19. Oleh karena itu, untuk meminimalisir risiko penyebaran virus, jenazah pasien ODP dan PDP diperlakukan sama dengan jenazah pasien positif COVID-19. “Perlakuan atas jenazah tersebut sesuai dengan SOP Protokol yang sudah ditetapkan oleh tenaga ahli. Namun, jika ternyata hasil tes pada pasien ODP dan PDP ternyata negatif dan meninggal, pemulasaraan jenazah dilakukan seperti biasanya, tidak sesuai dengan protokol penanganan jenazah COVID-19,” jelasnya saat dihubungi, Selasa (14/4).

dr. Agus juga menyampaikan bahwa yang memiliki risiko tinggi untuk dapat tertular virus COVID-19 adalah tenaga medis karena bersinggungan langsung dengan jenazah COVID-19 saat pemulasaraan jenazah tersebut, oleh karenanya ada protokol yang mengatur cara pemulasaraan jenazah pasien COVID-19. Virus akan tetap ada melalui cairan tubuh jenazah, dan protokol khusus menjadi sangat penting dalam penanganan jenazah pasien COVID-19. Dimulai dari tenaga medis yang sudah terlatih sebelumnya, menggunakan APD yang lengkap, hingga proses pemulasaraan jenazah untuk menghambat serta mencegah penyebaran virus. ”Proses pemulasaraan ini menggunakan protokol yang sangat ketat untuk meminimalisir resiko penyebaran virus COVID-19. Dimulai dari proses jenazah yang tidak dimandikan dan langsung dikafani bagi jenazah yang beragama Islam, kemudian dibungkus dengan plastik, disemprotkan disinfektan hingga menggunakan peti khusus yang direkatkan menggunakan lem agar saat penguburan jenazah sudah tidak perlu dibongkar lagi,” paparnya.

dr. Agus menambahkan bahwa Jenazah COVID-19 ketika dikuburkan virusnya akan mati karena di tubuhnya sudah tidak lagi mengandung banyak oksigen dan tidak mengandung bahan-bahan yang membuat virus ini hidup lama lagi. Oleh karena itu, dr. Agus menghimbau kepada masyarakat untuk tidak khawatir dan tidak menolak jenazah yang akan dikuburkan. Karena pada dasarnya jenazah betul-betul sudah dipersiapkan sebaik mungkin untuk tidak menulari orang yang bersentuhan secara langsung, dan juga tidak menulari orang-orang yang berada di sekitarnya.

”Masyarakat harus paham bahwa adanya protokol yang kurang manusiawi ini menjadikan keluarga korban tidak dapat melihat langsung selama proses pemulasaraan jenazah, karena untuk keselamatan orang yang masih hidup agar tidak tertular COVID-19. Oleh karena itu mengapa jenazah diperlakukan sesuai dengan protokol khusus, dan pemakamannya pun dilakukan secara khusus. Hal ini dalam rangka jangan sampai virus ini menyebar kepada orang yang masih hidup. Oleh karena itu mari hargai protokol yang sudah dibuat oleh para ahli agar virus tidak menyebar. Selain itu, yang menjadi berbahaya adalah jika adanya perkumpulan banyak orang untuk penolakan jenazah, bisa jadi antar mereka dapat memiliki resiko penularan terkena COVID-19. Oleh karena itu, lebih berberbahaya jika masyarakat yang memiliki resiko penularan ikut dalam perkumpulan banyak orang,” tutupnya. (nik)