Berbeda dari penyelenggaraan di tahun sebelumnya, festival seni cahaya bertajuk Sumonar tahun ini bakal disajikan secara virtual. Hal ini dikarenakan merebaknya pandemi Corona yang mengakibatkan banyaknya festival di Indonesia maupun di dunia yang terpaksa dibatalkan ataupun diundur penyelenggaraannya. .

Dengan mengusung tema Mantra Lumina, tahun ini merupakan perhelatan kali kedua setelah sukses dalam penyelenggaraan perdananya di tahun lalu. Mantra Lumina sendiri diambil dari dua kata yaitu Mantra yang berarti doa atau harapan dan Lumina yang merupakan istilah lain dari Cahaya. Apabila digabungkan bermakna harapan terbaik dari para pelaku seni yang disampaikan melalui cahaya.

Kurator SUMONAR 2020, Sujud Dartanto menuturkan, “Salah satu visi dan misi SUMONAR sendiri adalah memancarkan cahaya, melalui tema “Mantra Lumina” sendiri bisa diartikan kami dan para seniman yang terlibat di dalam festival ini ingin memancarkan harapan terbaik yang kami miliki melalui cahaya kepada banyak orang,” papar Sujud terhadap festival yang diselenggarakan oleh JVMP dan Saab! Production tersebut.

Lebih lanjut Sujud menjelaskan penyelenggaraan SUMONAR tahun ini dilaksanakan dengan cara yang berbeda seperti sebelumnya, yakni dengan memanfaatkan media digital untuk proses penyajian karya para seniman, maupun proses interaksi antara seniman dengan penikmat karyanya. “Semua pengunjung tidak perlu pergi ke mana-mana, tinggal memanfaatkan telepon genggam, laptop atau perangkat lainnya untuk menyaksikan keseluruhan konten yang ingin kami sajikan di dalam festival ini,” tutur Sujud.

“Hal ini tentu saja menjadi tantangan baru dan bisa dibilang menorehkan sejarah baru, dimana kami selaku pelaku seni atau seniman dituntut untuk terus berekspresi dan berkarya di tengah segala hal yang serba terbatas seperti sekarang dengan aktualisasi diri melalui media digital,” jelas Sujud lebih lanjut.

Co-Kurator SUMONAR 2020, Raphael Donny melanjutkan, pada tahun ini konten-konten yang akan disajikan kepada masyarakat tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya. Di antaranya seperti karya Video Mapping, Instalasi Cahaya dan masih banyak lainnya. Namun, yang membedakan pada tahun ini adalah para seniman memamerkan karya-karyanya dengan memanfaatkan media online. Begitupun untuk para penikmat karyanya sendiri.

Seniman yang terlibat dalam SUMONAR 2020 bisa terbilang lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Terutama untuk seniman yang berasal dari luar Indonesia. Di antaranya ada seniman yang berasal dari Cina, Jepang, Spanyol, Makau, Bulgaria dan lainnya. Dan sebanyak 50% seniman yang terlibat adalah mereka yang belum pernah ikut serta dalam SUMONAR di tahun sebelumnya.

Selain itu, salah satu bagian acara SUMONAR 2020 lainnya adalah Monument of Hope (MoH), sebuah program video mapping  dalam sebuah lokasi khusus. MoH  melambangkan ekspresi untuk tetap termotivasi dan selalu berfikir positif menyikapi keadaan saat ini. MoH akan berbentuk tayangan video mapping dari karya seniman dari seluruh tempat dan dunia sebagai wujud gerakan bersama masyarakat umum.

Masyarakat bisa menyaksikan keseruan festival cahaya ini pada tanggal 5 – 13 Agustus 2020 melalui website www.sumonarfest.com. (nik)